Teori empat kepribadian ini dikenalkan oleh Galen, seorang ahli fisiolog Romawi yang hidup di abad ke-2 Masehi. Ia menyatakan bahwa kepribadian manusia bisa dibagi menjadi empat kelompok besar: sanguin (populer), koleris (kuat), melankolis (sempurna)dan phlegmatis(damai).
Meski teori ini tergolong sangat kuno, para psikolog masa sekarang mengakui, teori kepribadian ini banyak benarnya. Tak heran jika teori ini banyak dipakai untuk memotivasi hubungan antar manusia, dan ketrampilan komunikasi. Lebih-lebih setelah teori ini dipopulerkan Florence Littauer dalam buku seri Personality Plus.
Menurut teori ini:
Anak sanguin punya energi yang besar, suka bersenang-senang, dan supel. Mereka suka mencari perhatian, sorotan, kasih sayang, dukungan, dan penerimaan orang-orang di sekelilingnya. Anak sanguin suk
a memulai percakapan dan menjadi sahabat bagi semua orang. Anak tipe ini biasanya optimis dan selalu menyenangkan. Namun, ia tidak teratur, emosional, dan sangat sensitif terhadap apa yang dikatakan orang terhadap dirinya. Dalam pergaulan, anak sanguin sering dikenal sebagai "si tukang bicara".
Anak koleris suka berorientasi pada sasaran. Aktivitasnya dicurahkan untuk berprestasi, memimpin, dan mengorganisasikan. Anak koleris menuntut loyalitas dan penghargaan dari sesama, berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasinya, serta suka ditantang dan mau menerima tugas-tugas sulit. Tapi mereka juga suka merasa benar sendiri, suka kecanduan jika melakukan sesuatu, keras kepala, dan tidak peka terhadap perasaan orang lain. Anak seperti ini sering diidentifikasi sebagai "si pelaksana".
Pemilik kepribadian melankolis cenderung diam dan pemikir. Ia berusaha mengejar kesempurnaan dari apa yang menurutnya penting. Anak tipe ini butuh ruang dan ketenangan supaya mereka bisa berpikir dan melakukan sesuatu. Anak tipe ini berorientasi pada tugas, sangat berhati-hati, perfeksionis, dan suka keteraturan. Karenanya, anak tipe ini sering kecewa dan depresi jika apa yang diharapkannya tidak sempurna. Anak melankolis sering diidentifikasi sebagai "si perfeksionis" atau "si pemikir".
Anak berkepribadian phlegmatis adalah anak yang seimbang, stabil, merasa diri sudah cukup, dan tidak merasa perlu merubah dunia. Ia juga tak suka mempersoalkan hal-hal sepele, tidak suka risiko atau tantangan, dan butuh waktu untuk menghadapi perubahan. Si anak kurang disiplin dan motivasi sehingga suka menunda-nunda sesuatu. Kadang, ia dipandang orang lain sebagai orang lamban. Bukannya karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia lebih cerdas dari yang lain.
Anak phlegmatis tak suka keramaian ataupun banyak bicara. Namun, ia banyak akal dan bisa mengucapkan kata yang tepat di saat yang tepat, sehingga cocok menjadi negosiator. Ia kadang diidentifikasi sebagai "si pengamat" atau "si manis".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







4 komentar:
udah dapet makul kepribadian to has?
Udah Yan. U piye??? Udah belum????
lagi proses ini has, pancen susah bgt ya, teori kabeh! hihihihi
Q ya masih proses kok Yan.
He-eh ki teori kabeh jan.....
Mandan kewalahan ki Q.
Nek da matkul yang menarik saling berbagi info ya he....
Posting Komentar